Sabtu, 17 November 2012

Tugas 2

Buatlah 3 soal essay  beserta jawaban sesuai materi yang telah diposting !

1.    Apakah yang dimaksud dengan “conscientisation” ( penyadaran ) ? 

Jawab :
Conscientisation adalah proses peningkatan kesadaran akan kenyataan sosial, dan peningkatan konsepsi diri secara positif sehubungan dengan kenyataan sosial itu.

2.    Apakah akibat dari kelompok - kelompok sejenis dalam menghadapi masalahnya bersama – sama ?

Jawab :
Dapat terjadi konflik dan persaingan jika beberapa organisasi bekerja dalam bidang yang sama, harus membagi sumber daya yang terbatas, dan menganggap tujuan-tujuan mereka tidak dapat dimiliki bersama-sama.

3.    Apakah kegunaan isi dan dimensi pendukung dari struktur ?

Jawab :
Proses dan isi di satu pihak, dan proses dan struktur di pihak lain, tidak ada lagi pemisahan di antara keduanya. Mereka menjadi segi-segi yang tidak dapat dipisahkan, dari fenomena yang sama. Dengan demikian, berbagai pertentangan yang ada dalam hidup keorganisasian sebagian besar dapat diselesaikan.

Tugas 1


Buatlah 3 soal beserta jawaban menggunakan pilihan ganda a – e sesuai materi yang telah diposting !
1.    Suatu organisasi mempunyai titik singgung dengan lingkungan sosialnya, yaitu keadaan politis, ekonomis, dan kebudayaan yang terdapat pada suatu waktu tertentu dalam masyarakat itu.
Proses utama dalam dimensi ini ialah, kecuali . . .
a.    Siapa yang lebih mempengaruhi
b.    Organisasi mempengaruhi lingkungan
c.    Lingkungan yang mempengaruhi lingkungan
d.    Lingkungan yang mempengaruhi keadaan
e.    Lingkungan yang mempengaruhi organisasi

2.    Siapa yang mengarahkan perhatian pada segi proses kesadaran sosial tentang “conscientisation” ( penyadaran ) ?
a.    Karl Marx
b.    Paulo Freire
c.    John Smith
d.    Pitter Rick
e.    Thomas Adison

3.    Proses pengaruh juga menyangkut . . .
a.    Autonomi organisasi
b.    Lingkungan
c.    Konflik organisasi
d.    Otonomi organisasi
e.    Tujuan organisasi

Kamis, 01 November 2012

Masyarakat : Proses-proses Nilai

Masyarakat merupakan kancah utama tempat semua organisasi bekerja. Perhatian organisasi terhadap proses-proses sosial oleh karena itu sangatlah penting. Proses-proses sosial ini perlu dipertimbangkan dari segi masyarakat seluruhnya. Proses-proses sosial yang paling relevan pada tingkat masyarakat adalah nilai-nilai dan kekuasaan. Karl Marx mengarahkan perhatian kepada dinamika dasar dari masyarakat, ialah, siapa yang mengendalikan alat-alat utama (alat-alat produksi) di dalam masyarakat. Demikian pula, penting artinya nilai-nilai apa yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai hendaknya dimengerti tidak hanya dalam arti apa yang dianggap lebih penting dalam masyarakat, tetapi juga berkenaan dengan model orang yang bagaimana yang dianggap penting dalam masyarakat. Apakah orang dianggap dan diperlakukan sebagai seorang penerima pasif atau sebagai unsur yang aktif? Proses “penyadaran” diri pada tingkat komunitas membawa perhatian kepada soal-soal nilai ini.
Berbagai proses yang disebut secara singkat di atas saling berhubungan. Lingkarannya akan lengkap jika orang sebagai bagian dari proses eksistensialnya sama-sama menyadari realitas sosial dan nilai dasar-dasar dan kekuasaan dalam masyarakat. Kesadaran ini membuat berbagai tingkat yang dibicarakan dalam bab ini menjadi makin erat berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, pemikiran akan proses dan penggunaan pengetahuan akan proses niscaya memerlukan kesadaran akan proses-proses utama yang terjadi pada berbagai tingkat, dan bangun hubungan di antara proses-proses ini. Di samping itu, mungkin berguna juga untuk menguraikan proses-proses ini secara terbuka, membicarakannya dan melihat implikasinya demi penyelenggaraan struktur yang lebih efektif dan lebih memperkaya isinya. Keterbukaan seperti itu dalam membicarakan dan menghadapi proses mungkin membantu membuat lebih efektif individu dan tingkat-tingkat lainnya. Mungkin ada gunanya untuk memperhatikan struktur dan isi, sehingga struktur yang direncanakan dapat mendorong jalannya beberapa proses yang penting, dan meningkatkan efektivitas pada berbagai tingkat. Demikian pula, isi proses mungkin juga direncanakan untuk memperlancar pelaksanaan prosesnya. Sebagai sebagian dari ini, mungkin proses itu sendiri dapat diperlakukan sebagai isi dan dimensi pendukung dari struktur. Jika diambil ancangan itu, proses dan isi di satu pihak, dan proses dan struktur di pihak lain, tidak ada lagi pemisahan di antara keduanya. Mereka menjadi segi-segi yang tidak dapat dipisahkan, dari fenomena yang sama. Dengan demikian, berbagai pertentangan yang ada dalam hidup keorganisasian sebagian besar dapat diselesaikan.

Referensi :
Udai Pareek, Seri Manajemen No. 98, Perilaku Organisasi : PT. Pustaka Binaman Presindo

Komunitas : Proses Kesadaran Sosial

Komunitas mempunyai beberapa tanggungjawab khusus, dan ada pekerjaan proses yang harus dilakukan pada tingkat itu. Suatu organisasi mungkin juga memperhatikan proses hubungan dengan dan membantu suatu komunitas. Beberapa organisasi ingin tampil di hadapan komunitas selaku organisasi pendidikan, atau organisasi bagi pengembangan manusia. Proses utama yang terjadi pada tingkat komunitas adalah kesadaran sosial. Paulo Freire (1972a) secara dramatis mengarahkan perhatian pada segi ini ketika ia berbicara tentang perlunya “conscientisation” (penyadaran) Conscientisation adalah proses peningkatan kesadaran akan kenyataan sosial, dan peningkatan konsepsi diri secara positif sehubungan dengan kenyataan sosial itu. Proses ini tidak saja memerlukan perhatian dari mereka yang bekerja dengan komunitas itu, tetapi juga organisasi lainnya yang ada kaitannya dengan komunitas tertentu.


Referensi :
Udai Pareek, Seri Manajemen No. 98, Perilaku Organisasi : PT. Pustaka Binaman Presindo

Batas antara Organisasi dan Lingkungan : Proses-proses Pengaruh

Suatu organisasi mempunyai titik singgung dengan lingkungan sosialnya, yaitu keadaan politis, ekonomis, dan kebudayaan yang terdapat pada suatu waktu tertentu dalam masyarakat itu. Proses utama dalam dimensi ini ialah pengaruh – siapa yang lebih mempengaruhi, organisasi mempengaruhi lingkungan, atau lingkungan yang mempengaruhi lingkungan, atau lingkungan yang mempengaruhi organisasi. Ini merupakan proses penting untuk pembangunan lembaga. Ini masalah pro-aktivitas lawan re-aktivitas; apakah organisasi hanya bereaksi terhadap lingkungan atau mengadakan pro-aksi dengan lingkungan, sehingga organisasi juga mampu untuk sedikit banyak mengubah lingkungan. Proses pengaruh juga menyangkut autonomi organisasi; sejauh mana organisasi mampu membentengi diri terhadap pengaruh yang tidak semestinya dari luar, di samping membuka diri terhadap pengaruh sehat.
Beberapa organisasi yang saling berhubungan bekerja untuk suatu tujuan bersama. Mereka mungkin mempunyai bidang yang sama. Misalnya, kelompok-kelompok sejenis dapat bekerjasama menghadapi masalah-masalah bersama. Sebaliknya, beberapa organisasi dengan tujuan-tujuan yang berbeda dan bidang-bidang kerja yang berbeda juga dapat mempunyai beberapa tujuan bersama, dan berkumpul untuk mengerjakan beberapa masalah. Dalam banyak hal, bekerja antar organisasi seperti itu merupakan proses dasar dari kerjasama, mencari bidang dasar di mana mereka dapat bertemu. Juga dapat terjadi konflik dan dan persaingan jika beberapa organisasi bekerja dalam bidang yang sama, harus membagi sumber daya yang terbatas, dan menganggap tujuan-tujuan mereka tidak dapat dimiliki bersama-sama (yakni, dalam situasi di mana jika satu organisasi mencapai tujuannya, organisasi-organisasi yang lain tidak lagi punya pekerjaan).

referensi :
Udai Pareek, Seri Manajemen No. 98, Perilaku Organisasi : PT. Pustaka Binaman Presindo 

Minggu, 29 April 2012

Manusia dan Pandangan Hidup

Manusia dan Pandangan Hidup

A.    Pengertian Pandangan Hidup

Pandangan hidup bersifat kodrati, karena itu menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya, yaitu :
(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang tendapat pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan  pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan. Cita - cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.

B.     Cita – Cita
 
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita­cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan lain: cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.

Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu  disebut angan-angan. Disini persyaratan dan kemampuan tidak/belum dipenuhi sehinga usaha untuk mewujudkan cita-cita itu tidak mungkin dilakukan. Misalnya seorang anak bercita­cita  ingin menjadi dokter, ia belum sekolah, tidak mungkin berpikir baik, sehingga tidak punya kemampuan berusaha mencapai cita-cita. Itu baru dalam taraf angan-angan.

Ada tiga faktor dalam pencapaian yang dicita-citakan, yaitu:

1.      Faktor manusia
Mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusia. Karena ada orang yang tidak berkemauan, sehingga apa yang dicita-citakan hanya merupakan khayalan saja. Sebaliknya dengan anak yang berkemauan keras ingin mencapai apa yang dicita-citakan, cita-cita merupakan motivasi atau dorongan dalam menempuh hidup untuk mencapainya.

2.      Faktor kondisi
Faktor ini yang mempengaruhi tercapainya  cita-cita, pada  umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita, sedangkan faktor yang menhambat merupakan kondsi yang merintangi tercapainya suatu cita-cita.

3.      Faktor tingginya cita-cita
Pepatah mengatakan “bayang-bayang setinggi badan”, artinya mencapai cita-cita sesuai kemampuan dirinya. Anjuran ini menyebabkan seseorang bertahap mencapai apa yang didam-idamkan. Pada umunya dilakukan dengan penuh perhitungan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki saat itu serta kondisi yang dilalui. Contohnya seperti kondisi ini :
Pada mulanya Basir adalah seorang pedagang kecil, pedagang kaki lima. Ia menyadari bahwa dengan modalnya yang kecil maka dengan susah payah diperolehnya keuntungan yang berani. Karena itu dengan hematnya disisihkan uang keuntungannya untuk memperbesar modalnya. Hal itu berhasil diperolehnya. sehingga dengan modal yang lebih besar ia dapat menjadi pedagang menengah. Dan dengan ketekunannya lagi dilanjutkan kegiatannya dalam dagang. Dengan kejujuran serta kesungguhannya dapatlah ia memperbesar usahanya melalui kredit yang dipercayakan bank kepadanya. Dengan pengalaman sebagai bekal, kesungguhan serta kepercayaan yang dapat diberikan kepada relasinya, Basir berhasil menjadi pedagang besar. Cita-citanya berangsur dari pedagang kecil kepedagang menengah dan akhirnya tercapai menjadi pedagang besar.

Suatu cita-cita tidak hanya dimiliki oleh individu, masyarakat dan bangsapun memiliki  cita­cita juga. Cita­cita suatu bangsa merupakan keinginan atau tujuan suatu bangsa. Misalnya bangsa Indonesia mendirikan suatu negara yang merupakan sarana untuk menjadi suatu bangsa yang masyarakatnya memiliki keadilan dan kemakmuran.

C.    Kebajikan
 
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.

Manusia sebagai mahluk Tuhan, diciptakan Tuhan dan dapat berkembang karena Tuhan. Untuk itu manusia dilengkapi kemampuan jasmani dan rohani juga fasilitas alam sekitarnya seperti tanah, air, tumbuh­tumbuhan dan sebagainya.

Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Jadi baik atau buruk itu dilihat menurut suara hati sendiri. Meskipun demikian harus  dinilai dan diukur menurut suara atau pendapat umum. Disini tidak berani bahwa pendapat umum atau kepentingan umum itu di atas segala-galanya, sehingga suara hati, pendapat atau kepentingan  diperkosa begitu saja. 

Sebagai mahluk Tuhan, manusiapun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum Tuhan atau hukum agama.

Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berani berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik, yang bermaksud mencari keuntungan diri-sendiri.

Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka sesuap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri sehingga tingkah laku setiap orang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal, yaitu:
1.      Faktor pembawaan ( heriditas )
2.      Faktor lingkungan ( environment )
3.      Faktor pengalaman

D.    Usaha / Perjuangan

Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan. Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempurna. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia harus kerja keras.

Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia itu miskin, melarat, dan berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya sendiri. Karena itu tidak boleh bermalas-malas, bersantai-santai dalam hidup ini. Santai dan istirahat ada waktunya dan manusia mengatur waktunya itu.

Dalam agamapun diperintahkan untuk kerja keras. Sebagaimana hadist yang diucapkan Nabi Besar Muhammad S.A.W. yang ditujukan kepada para pengikutnya: "Bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya dan beribadahlah kamu seakan­akan kamu akan mati besok. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11 : "sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dari hadist dan  ini dapat dinyatakan bahwa manusia perlu kerja keras untuk memperbaiki nasibnya sendiri.

          Karena manusia itu mempunyai rasa kebersamaan dan belas kasihan (cinta kasih) antara sesama manusia, maka ketidakmampuan atau kemampuan terbatas yang menimbulkan perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi bersama-sama secara tolong menolong, bergotong­royong. Apabila sistem ini diangkat ke tingkat organisasi negara, maka negara akan mengatur usaha/perjuangan warga negaranya sedemikian rupa, sehingga perbedaan  tingkat kemakmuran antam sesama warga negara dapat dihilangkan atau tidak terlalu mencolok. Keadaan ini dapat dikaji melalui pandangan hidup/ideologi yang dianut oleh suatu negara.

E.     Keyakinan / Kepercayaan

Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.

1.      Aliran Naturalisme

Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan  tidak ada yang ada hanya natur.

            Bagi yang percaya Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama itu ada dua macam yaitu :
1.   Ajaran agama dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi­nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat mutlak (absolut), terdapat dalam kitab suci A1-Quran dan Hadist. Sifatnya tetap, tidak berubah-ubah.
2.   Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif (terbatas). Ajaran agama dari pemuka­pemuka agama termasuk kebudayaan, terdapat dalam buku-buku agama yang ditulis oleh pemuka­pemuka agama. Sifatnya dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Apabila aliran naturalisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari Tuhan. Jadi, pandangan hidup dilandasi oleh ajaran­ajaran Tuhan melalui agamanya. Manusia yakin bahwa kebajikan itu diridhoi oleh Tuhan, pandangan hidup yang dilandasi keyakinan bahwa Tuhanlah kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala-galanya disebut pandangan hidup religius (keagamaan).

Sebaliknya, apabila manusia tidak mengakui adanya Tuhan, natur adalah kekuatan  tertinggi, maka keyakinan itu bermula dari kekuatan natur. Pandangan hidupnya dilandasi oleh kekuatan natur. Manusia yakin bahwa kebajikan adalah kebajikan natur. Pandangan hidup yang dilandasi oleh kekuatan natur sifatnya atheisme. Ini disebut pandangan hidup komunis.

2.      Aliran Intelektualisme

Dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan pikir (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi. Teknologi adalah alat bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan hati nurani.

Akal berasal dari bahasa Arab, artinya kalbu, yang berpusat di hati, sehingga timbul istilah“hati nurani”, artinya daya rasa Di Barat hati nurani ini menipis, justru yang menonjol adalah akal yaitu logika berpikir. Karena itu aliran ini banyak dianut di kalangan Barat. Di Timur orang mengutamakan hati nurani,yang baik menurut akal belum tentu baik menurut hati nurani.

Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal. Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akal menimbulkan kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah laku dan perbuatan itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekankan pada setiap individu, karena itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi tinggi) dapat menguasai individu yang berpikir rendah (bodoh).

3.      Aliran Gabungan

Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (haiti nurani). Jadi, apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani.

Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme.

F.     Langkah-Langkah Berpandangan Hidup yang Baik

Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukaan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya.

Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah berpandangan hidup. Karena hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :
-          Mengenal
-          Mengerti
-          Menghayati
-          Meyakini
-          Mengabdi
-          Mengamankan

( Sumber : bab8-manusia_dan_pandangan_hidup.pdf )